Persiapan hingga Perjuangan untuk mendapatkan Blue Fire Kawah Ijen


Petualangan kali ini dimulai dari transportasi yang begitu bersahabat dengan isi kantong. kami ber4 akan melakukan backpacker trip ke Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Jawa Timur tepatnya di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso.

Dari Jogja, kami menggunakan Kereta Api Sri Tanjung dari stasiun Lempuyangan pukul 07.00 pagi  menuju stasiun Karangasem dengan harga ekonomis yaitu 94rb. selama 8 jam perjalanan tak semenitpun kami terlelap. Kami habiskan waktu dengan candaan, obrolan seru sampai serius, cemilan, keluar gerbong ketika pemberhentian untuk meredupkan demo cacing di perut, memandangi pemandangan, mengamati orang sekitar, mendengar musik, dan masih banyak kegiatan penghilang bosan lainnya. kami tiba pukul 20.34 malam dan lelah itu baru mulai menjalar, namun tak kami hiraukan. 

di stasiun Karangasem kami dapati banyak warung makan dan tempat penyewaan motor. hal ini sangat memudahkan kami untuk segera menuju Gunung Ijen. setelah negosiasi harga, 2 buah sepeda motor kami bayar sebesar 150 rb untuk pemakaian 24 jam dengan jaminan satu buah KTP. Malam itu juga, kami gas sepeda motor menuju Ijen berbekal maps di smartphone. Berhubung kendaraan sewa, isi bensin sudah pasti yang pertama kami lakukan. 

Jam sudah menunjukakkn pukul 11 malam, dimana jalanan sangat sepi nan gelap, pohon-pohon besar di kanan kiri, bak hutan di sepanjang perjalanan yang kami lewati. rasa takut itu kami tahan dan hilangkan hingga akhirnya kami masuk kawasan Cagar Alam Taman Wisata Ijen. 



Tengah malam kami baru tiba di basecamp pendakian yang sudah  ramai dari pengunjung. Tiket masuk kawasan dapat dibeli mulai pukul 01.00 malam. Sembari menunggu, kami menggelar matras dan mulai memasak nasi goreng spesial ala-ala chef profesional dengan menggunakan nesting seadanya. Karna menarik perhatian, 2 orang turis asal China menghampiri kami dan bertanya banyak hal. karna ciri khas orang Indonesia yang memang terkenal ramah, tanpa banyak pertimbangan kami mengajak turis tersebut untuk ikut  makan sehingga kami berbincang cukup lama.

Sekitar pukul 02.00 dini hari salah satu teman kami mebeli tiket masuk kawasan seharga 5 ribu rupiah untuk pengunjung domestik, ditambah 10 ribu untuk biaya pengelolaan. Dengan tiket yang sudah ada di tangan, kami pun memasuki jalur pendakian Gunung Ijen dan mulai berjalan perlahan namun konsisten melangkah. tak banyak yang kami lihat di rute pendakian yang gelap ini, namun kami sering berpapasan dengan pendaki lainnya dan para penambang belerang.

setelah 3 jam perjalanan kami tiba di puncak dan bau belerang semakin menyengat hidung kami. para  penjual masker mulai menawarkan kepada setiap pengunjung. demi keamanan sebelum menuruni kawah, kami pun memutuskan untuk menyewa masker tertutup seharga 25 rb/buah.

Perjuangan untuk melihat blue fire pun dimulai, kami begitu antusias ingin melihat Blue Fire yang hanya ada 2 di Dunia. menarik bukan, keistimewaan ini ada di Indonesia dan satunya ada di Islandia, Luar Biasa..
kami berjalan perlahan menuruni jalur setapak para penambang belerang menuju kawah. jalur bebatuan sudah pasti kami harus berhati-hati, atur nafas dengan baik berhubung aroma belerang begitu menyengat, lelah sudah pasti, namun lagi-lagi kami termotifasi melihat para penambang yang setiap hari bekerja di kawasan ini.

Salah satu keunikan di Gunung ini memang berada pada masyarakatnya. Mayoritas penduduk sekitar mencari penghasilan sehari-hari dengan menambang belerang. Pekerjaan yang begitu berbahaya ini sudah terkenal di mata dunia. Bagaimana tidak, kami membuktikan sendiri dengan melihat cara mereka menambang begitu traditional tanpa pengamanan yang cukup. Berbekal sepasang  keranjang yang di panggul, mereka turun ke kawah yang berasap tanpa menggunakan masker. beralaskan sendal jepit dan palu yang mereka bawa untuk memecah sebongkah batu belerang.

bagaimana kami tidak semangat melihat mereka yang begitu kuat dengan badan yang tak muda lagi. kami pun terus menuruni kawah meskipun mulai bermunculan asap tebal, nafas semakin sempit, peglihatan mulai kabur, mata memerih, dan benar-benar diluar dugaan. Kami sulit berkomunikasi dan hanya menggunakan isyarat untuk itu.

Sinar cahaya-cahaya biru terlihat, kami semakin mendekat bak kobaran api yang menyala itu muncul hilang muncul dan ternyata mulai terasa panasnya dari dekat. tak lama setelah mengambil beberapa jepretan, kami memutuskan untuk naik kembali ke puncak demi keamanan karena kondisi kawah yang tak bisa diprediksi keamanannya.

Semakin sulit medan yang kami harus lalui,  bukan perkara mudah karena butuh nafas panjang ketika kita harus berjalan menanjak. apalah daya, udara yang terbatas membatasi gerak langkah kami namun asap tebal yang muncul membuat kami panik. "aku mau mati, aku mau mati nih" seru salah satu dari kami, lucu memang kalo difikir-fikir setelahnya.

Akhirnya kami tiba kembali di puncak, kami mengambil nafas dalam-dalam dan beristirahat hingga sinar mentari muncul perlahan dan keindahan kawah mulai nampak dari atas. lelah pun hilang seketika tergantikan kebahagiaan yangn tak terkira.








Luar biasa Ciptaan-Nya, tempat yang begitu indah ini ada di Indonesia. 

Komentar