Sekarang Gunung Papandayan lebih ramah wisatawan ! Siapapun bisa menikmati keindahannya tanpa perlu khawatir.



Halo semua, akhirnya aku dan kedua temanku bisa menyempatkan diri reuni dan bernostalgia di Gunung Papandayan beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 12 Januari 2019. Mau tau ceritanya ??

Flash back 5 tahun yang lalu, saat kami masih duduk di kelas 3 SMA.
"Peh, mau ikut muncak gak ? kita ke Gunung Papandayan. Disana ada kenalan akamsi yang siap antar kita" ujar Marsh dan Rini saat liburan pendek menjelang Try Out UN 2014 lalu.

Aku yang merasa butuh refresing langsung mengiyakan dan begitu antusias atas ajakan mereka. Tak banyak pertimbangan, keesokan harinya kami berangkat dari Bandung menuju Garut dan singgah di Rumah Rini terlebih dahulu.

Setelah menginap satu malam, keesokan paginya kami ber 3 berangkat menggunakan angkutan umum (elf) menuju Gunung Papandayan. Masing-masing dari kami membawa ransel. Tak banyak isisnya, hanya makanan yang aku ingat sisanya kami benar benar tidak memperhatikan peralatan mendaki yang safety. 

Bertemu kang Ramang di gapura pintu masuk Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, kami berkenalan dengan malu-malu kucing. Tak banyak obrolan, kami langsung mengikuti beliau dan 2 orang temannya memesan ojek. Ojek merupakan salah satu jasa transport umum selalin pick up yang bisa digunakan. Sekitar 9km jarak yang harus kami tempuh dari bawah menuju lokasi retribusi. Akses jalan belum teraspal, membuat kami was-was sepanjang perjalanan saat digonceng bapak ojek.

Sesampainya di loket, kami hanya menambah kekurangan uang tiket sebesar 10.000, sisanya kang Ramang membayarkan kami. Tiket saat itu sebesar 6000 rupiah perorang sudah termasuk biaya camp satu malam. The Power of Akamsi, jadi bisa murah. hehe

Nah loh, itu 2014 ya saat TWA masih dikelola pemerintah dan masyarakat setempat. Harga tiket terbaru 2019 sebesar 30.000 rupiah permalam, jika camp dikenai biaya tambahan sebesar 35.000 rupiah permalam, parkir motor sebesar 17.000 rupiah, dan untuk mobil sebesar 30.000 rupiah. Kenapa sekarang bisa begitu tinggi harga tiket masuknya ya ? hmm.. ternyata saat ini TWA sudah dikelola oleh perusahaan swasta yaitu PT Asri Indah Lestari.

Kali ini kami tak menginap, hanya hiking santai sambil mengenang dan bernostalgia tentang pengalaman dan petualangan 5 tahun lalu yang sulit dilupakan. Kami punya cerita konyol yang menyimpan banyak pelajaran. penasaran ?? terus ikutin ceritanya ya.. hehe

Begitu memasuki kasawan TWA, batuan khas dan pemandangan bukit berkawah mengagumkan jiwa kami. Masih Cantik dan akan selalu cantik dimata kami. Aaaaa pokonya sukaaaa dan kami bertiga begitu Girang. Begitupula pengunjung yang lain, mereka mengabadikan momen di beberapa spot foto berlatarkan kawah belerang. Jangan lupa siapkan masker ya...



Saat ini jalur pendakian terlihat lebih tertata dan ramah bagi wisatawan umum. Siapapun dari kalangan apapun, tua ataupun muda semua bisa menikmati TWA ini. Akses dari Jalan raya menuju Retribusi sudah beraspal, takan was-was lagi jikalau digonjeng bapak ojek. hehe. Tak hanya itu, Tangga buatan membentang dan memudahkan kita untuk berjalan di jalur pendakian. Beberapa pos didirikan dengan gazebo untuk beristirahat dan sederet toilet umum memudahkan siapa saja yang ingin buang air dengan nyaman.

Pangling memang, banyak perbedaan dan perkembangan dalam 5 tahun ini. Yang paling terasa adalah ketersediaan air. Dulu kami harus mencari sumber mata air atau pipa saluran air yang bocor. hehe, kalo sekarang di setiap pos sudah terdapat toilet yang terkelola. waaaaah, luar biasa ya.. semoga Gunung Papandayan ini bisa jadi salah satu TWA percontohan dalam hal pengelolaan kebersihan.

Dibeberapa gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Merbabu misalnya, sempat didirikan toilet di pos 2, namun tak bertahan lama toilet kini berubah  menjadi bangunan super jorok. sampah berserahkan bahkan kotoran mengering tak dibersihkan lagi. wahwahwaaah....

Bagi pengunjung yang tidak berkemah, hiking menuju hutan mati juga banyak diminati loh. Hutan Mati sudah menjadi ikonik, tak heran banyak yang ingin mendaki Gunung Papandayan karena alasan ini. Lokasi hutan mati tak begitu jauh dan bisa menjadi jalur alternatif yang lebih pendek jika kita akan menuju pondok saladah atau camping ground. Keindahan Bunga Abadi atau Bunga Eidelweis dapat kita nikmati disekitaran Pondok ini dan di Puncak Tegal Alun.


Selain Kawah, Hutan Mati dan Keindahan Bunga Eidelweis, sepanjang jalur kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa cantiknya. Datanglah pagi hari agar pemandangan bersih dari kabut. Jika hanya berencana untuk hiking, turunlah sebelum sore hari. Biasanya setelah jam 12 siang hari kabut tebal akan menghalangi pandangan kita dan khawatir akan turun hujan.

Oiya, sempatkan jajan dulu di warung-warung yang ada di Pondok Saladah. What ?? ada warung ?? yaps, kalo dulu 2014 cuma ada 1 warung aja, sekarang udah ada sekitar 7 warung disana. Lucu juga mereka jual cilok, seblak, dll. asiiiik kan makan begituan di Gunung. hihi

Sambil jajan, sambil tanya informasi ya.. Mereka yang membuka warung ternyata adalah para guide Gunung Papandayan. So, kita juga bisa menggunakan jasa mereka untuk di antar ke tempat-tempat seru ditambah penjelasan-penjelasan langsung dari mereka.

jadi kapan ke Gunung Papandayan lagi ???







Komentar